Jumat, 15 Desember 2017

Kabupaten Rohil Siap Jadi Percontohan Budidaya Kerang di Provinsi Riau

TOPRIAU - Posisi Kabupaten Rokan Hilir  memiliki nilai yang sangat penting dari segi geografis, Selat Melaka merupakan jalur pelayaran dan perdagangan international yang sangat ramai. Disamping itu, potensi kerjasama regional antar Provinsi dan Kabupaten kota maupun   kerjasama lainnya terbuka luas untuk dikembangkan dan dikelola oleh pemerintah dan masyarakat Kabupaten Rokan Hilir.

Secara fisiografis  sebagian besar wilayah merupakan daerah daratan rendah, yaitu daerah endapan sungai, gambut, daerah sebagian kecil wilayah lainnya merupakan daratan tinggi     berbentuk bukit-bukit. Pada umumnya struktur tanah Kabupaten Rokan Hilir terdiri atas tanah Orgonosol ((Histosol), yaitu tanah   gambut yang banyak mengandung bahan organik.

Secara  hidrologi Kabupaten Rokan Hilir memiliki 15 aliran sungai, daerah aliran sungai terpanjang adalah Sungai Rokan lebih kurang 250 Km yang bermuara di Bagansiapiapi danhulunya di Kabupaten Rokan Hulu yang dapat dikembangkan sebagai sumber okonomi bagi masyarakat dan juga sebagai alat trasportasi, disamping itu Rokan Hilir juga memiliki banyak pulau seperti halnya pulau kepulauan Aruah, Pulau bakeri dan Pulau Pedamaran  yang memiliki eksotek keindahan yang dapat dikelola menjadi kawasan wisatadan pengembangan aneka ragaman hayati yang dapat diusahakan dan dikelola menjadi lumbung devisa, termasuk salahsatunya adalah tentu saja budidaya kerang.

Bupati Rohil, H Suyatno mengatakan, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) merupakan satu-satunya daerah di Provinsi Riau yang melakukan budidaya kerang dan kabupaten Rohil siap menjadi kabupaten percontohan budidaya kerang di Provinsi Riau. Menurutnya, saat ini pemasaran kerang asal Rohil juga sudah merambahke provinsi tetangga, Sumatera Utara.

Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Kabupaten Rohil sudah merealisasikan program budidaya kerang di daerah pesisir pantai dengan telah menyiapkan lahan untuk kegiatan budidaya kerang yang luasnya mencapai 124,34 kilometer persegi. Lahan seluas 124,34 kilometer persegiitu, dipusatkan digaris pantai mulai dari Kecamatan Pasir Limau Kapas, Bagansiapiapi hingga ke Kecamatan Sinaboi.

Untuk memanfaatkan lahan di garis pantai tersebut, tetapakan mengikuti ketentuan yang berlaku. Salah satunya, melakukan koordinasidan kerjasama dengan semua instansi terkait seperti pihak kecamatan dan aparatur kepenghuluan termasuk masyarakat karena pelaksanaan budidaya kerang tersebut dilakukan oleh masyarakat yang berada di pesisir pantai.

Sementara, jenis kerang yang bakal dilakukan untuk kegiatan budidaya tersebut yakni jenis Kerang Darah. Kegiatan budidaya itu hanya memerlukan waktu antara empat bulan hingga lima bulan dan langsung bisa dipanen dengan jumlah yang berlipat.

"Kalau kegiatan budidaya kerang itu, kita melakukan sebanyak 10 kilogram, maka bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram sampai 40 kilogram. Kalau benihnya kita tebarkan satu ton, jelas hasilnya bisa bertambah," ungkapBupati. Sedangkan harga di pasarannya, khususnya di tingkat pengecer, bisa mencapai Rp12 ribu per kilogram.

Apalagi, di kuala Bagansiapiapi yang berada di depan Sungai Rokan, di saat air laut surut. Maka kelihatan ada delta yang kondisinya juga bisadijadikan tempat budidaya kerang. Selainitu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohil juga baka lmenjadikan Kecamatan Sinaboi sebagai sentral budidaya kerang.

Selain daerahnya memiliki potensi perikanan yang melimpah ruah, juga memiliki potensi kerang yang berkualitas tinggi. Bahkan, pihak kecamatan setempat mengklaim kalau kerang di daerahnya lebih bagus kualitasnya jika dibandingkan kerang yang berada di kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika).

Kepala Dinas Perikanan Rohil, M Amin mengatakan, salahsatu tujuan Panen Raya tersebut untuk memberikan motivasi kepada nelayan pembudidaya kerang. "Jadi kita sengaja undang pihak provinsi agar jika ada dana program Provinsi bisa direalisasikan di Rokan Hilir," kata Amin.

Amin menambahkan, kedatangan Kadiskanlut Riau juga terlihat sangat antusias dan akan berupaya memprogramkan serta memperjuangkan dana-dana Provinsi untuk pengembangan kerang di Rokan Hilir. Dirinya mengaku, untuk kendala yang dihadapi saat ini adalah benih-benih kerang masih berasal dari alam sehingga tergantung dengan kondisi alam.

Namun pihaknya sudah berupaya melakukan pembibitan namun belum berhasil."Inilah yang akan terus kita coba sehingga benihnya bisa lebih berkualitas," jelasnya. Untuk benih terdiri dari dua jenis, diantaranya sebesar Gula Pasir dan Sebesar Biji Kacang. Namun rata-rata saat ini memang benih sebesar gula pasir oleh puluhan pembudidaya kerang.

Dinas Perikanan Rohil akan terus melakukan pembinaan terhadap kelompok budidaya kerang ebagai salahsatu alternatif jika hasilIkan sedang mengalamai penurunan. "PerikananTangkap tetap dijalankan dan budidaya kerang juga jalan, jadi bisa dua-duanya dijalankan” tutupnya (ADVERTORIAL)