Rabu, 20 September 2017

Kemenpar Gelar Workshop Batik di Universitas Jepang

TOKYO, TOPRIAU - Kementerian Pariwisata mengadakan workshop batik bertema "Experience The Wonderful of Indonesia Through Batik Workshop" di Bunka Gakuen University, Tokyo, Jepang.

Puluhan mahasiswa terlihat antusias mengikuti workshop dan belajar membatik yang dipandu perancang batik asal Pekalongan Aditya Yusma yang juga pemilik sanggar Aditya.
"Selain memperkenalkan batik, pada lokakarya ini juga ditunjukkan proses membatik dan peragaan busana batik," kata Kepala Seksi Festival, Seni dan Budaya Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata Dody Prianto di Tokyo Kamis (26/11) dalam keterangan resmi yang diterima Republika.co.id.

Dody mengatakan Bunka Gakuen University merupakan perguruan tinggi rancang busana nomor satu di Jepang dan nomor tujuh di dunia. Dengan adanya workshop di universitas tersebut, Dody berharap batik bisa lebih dikenal dan diapresiasi oleh para perancang busana.

Tidak hanya itu, workshop tersebut juga bertujuan mempromosikan pariwisata Indonesia yang bertemakan "Wonderful Indonesia" atau "Pesona Indonesia".
Sementara itu, pimpinan Bunka Gakuen University Endo Hajime mengatakan batik sudah dikenal di Jepang dengan sebutan "Jawa Sarasah". Proses pembuatan batik pun sudah dilakukan di Jepang.

"Namun, pembuatan batik di Jepang saat ini sudah mulai menurun. Melalui workshop ini akan bisa dibandingkan proses pembuatan batik yang dilakukan di Jepang dan di Indonesia," tuturnya.

Endo mengatakan Bunka Gakuen University selama ini mengajarkan rancang busana mulai dari pembuatan tekstil hingga busana jadi, serta meneliti sejarah dan proses pembuatannya hingga pemasarannya.

"Mahasiswa kami tidak hanya dari Jepang, tetapi juga ada dari Taiwan, Tiongkok dan negara lain-lain. Batik sudah digunakan dalam merancang busana di sini, tetapi belum banyak," katanya.

Para mahasiswa peserta workshop mempelajari sejarah dan motif-motif batik serta melihat busana batik rancangan Sanggar Aditya yang dikenakan para model. Para peserta juga belajar membatik mulai dari proses mencanting dan pewarnaan dengan proses mencolet.

"Batik sudah diakui sebagai warisan budaya UNESCO pada Oktober 2009. Untuk menbuat satu lembar batik tulis saja bisa diperlukan waktu hingga dua bulan," jelasnya.TR/ROL