Senin, 10 Desember 2018

Candi Muara Takus Dijadikan Lokasi Kemah Cagar Budaya

TOPRIAU, PEKANBARU - Ratusan siswa dari berbagai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di Kabupaten Kampar mengikuti kemah cagar budaya di kawasan Cagar Budaya Candi Muara Takus di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Kemah ini dimulai Jumat (16/3/2018) hingga Minggu (18/3/2018) mendatang.

Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Wilayah Kerja Riau, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau Drs Nurmatias, Ketua Harian Kwarda 04 Riau Ok Nizami Jamil dan Andalan Kwarda Riau Joko Pujiono, Sekretaris Kwarcab Pramuka Kampar Jon Haril, perwakilan dari Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kampar, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Kapolsek XIII Koto Kampar AKP Budi S, Danramil XIII Koto Kampar Kapten Diding S serta ninik mamak dan tokoh masyarakat.

Dari BPJB Riau, Sumbar dan Kepri juga hadir Hasan Basri yang juga Kapokja Dokumentasi dan Publikasi dan sejumlah staf diantaranya Eliza Nora, Edi Yudson, Kurnia Mulyasari Hari Wijaya, Rahmat dan Gema Indra Kusuma.

Diantara sekolah yang ditunjuk mengikuti kegiatan ini adalah SMAN 1 Bangkinang Kota, SMAN 2 Bangkinang Kota, SMKN 1 Bangkinang Kota, SMA Muhammadiyah Bangkinang Kota, Pondok Pesantren Darun Nahdhah Thawalib Bangkinang, SMAN 1 Salo, SMAN 1 Kuok, SMKN 1 Kuok, SMAN 1 XIII Koto Kampar, SMAN 1 XIII Koto Kampar, SMKN 1 XIII Koto Kampar, SMAN 1 Koto Kampar Hulu dan SMAN 2 Koto Kampar Hulu.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Wilayah Kerja Riau, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau Drs Nurmatias dalam sambutannya mengatakan, Kemah Cagar Budaya ini merupakan implementasi dari kerjasama Kwarnas dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Apalagi saat ini Pramuka menambah satu Saka lagi yaitu Saka Widya Budaya Bhakti dan tujuh Krida. Saka ini bertujuan bagaimana cagar budaya di Indonesia dikenal dan ditumbuhkembangkan oleh Pramuka.

"Maka dilakukanlah kemah cagar budaya di Komplek Candi Muara Takus karena ini adalah peninggalan sejarah masa lalu yang harus disampaikan ke generasi muda dan masyarakat," tutur Nurmatias, Sabtu (17/3/2018).

Ia menyebutkan, kegiatan ini diikuti168 siswa dan siswi SLTA se-Kabupaten Kampar dan 32 dari kakak pembina Pramuka dari Kwarcab Kampar.

Ia mengungkapkan, kedepan akan membuat kemah yang lebih besar lagi dengan mengundang Kwarcab se-Riau.

Adapun tema kemah ini yakni "Cagar budaya untuk ketahanan bangsa. "Tanpa cagar budaya ketahanan bangsa bisa merosot," ujar Nurmatias.

Candi Muara Takus ini sengaja dipilih karena candi ini adalah titik tengah Pulau Sumatera yang wajib dikunjungi.

Salah satu kegiatan yang diikuti pelajar pada kemah ini yaitu lomba menulis tentang Cagar Budaya Muara Takus dan presentasi. Lomba ini dilakukan setelah dilakukan observasi.

Sementara itu Bupati Kampar yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Aliman Makmur dalam arahannya menyampaikan, kemah ini memiliki arti penting sebagai sarana pembelajaran dan penyatuan siswa, masyarakat agar lebih kenal lagi dengan cagar budaya terutama di Kabupaten Kampar. Menurutnya, Kampar banyak memiliki cagar budaya dan harus benar-benar dijaga dan dilestarikan.

Bangga terhadap cagar budaya salah satu dengan cara melestarikan dan pengembangan. Dengan lestarinya cagar budaya maka akan menjadi kesejahteraan dan membangun karakteristik Kampar.

"Ini kegiatan positif bagi pelajar. Arus globalisasi pengaruhnya sangat besar. Anak muda tak bisa lepas dari gadget yang membuat dunia makin canggih dan anak muda malas bergerak dan malas berfikir," ucap mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan Kampar ini.

Ia mengajak anak Pramuka harus selalu aktif dan semangat. Kegiatan yang ditaja BPCB ini memberikan dorongan bagi pelajar, masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah di Kabupaten Kampar," ulas Aliman.

Sementara itu Ketua Harian Kwarda 04 Riau H OK Nizami Jamil yang juga tokoh masyarakat Riau menegaskan letak pentingnya Candi Muara Takus. Dikatakan, setidaknya telah terjadi empat kali pemugaran.

Candi Muara Takus menandakan bahwa Kampar pernah menjadi pusat kerajaan terbesar di Indonesia pada masanya yaitu Kerajaan Sriwijaya sebelum pindah ke Palembang.

Teori ini diperkuat oleh sejumlah sejarawan dan sumber klasik. Salah satu pendapat menyebutkan terjadi pemindahan pusat kerajaan dari Kampar ke Palembang. Waktu itu tercatat 20.000 tentara dan warga pindah karena terjadi pendangkalan Sungai Kampar. Bukti itu ada karena ada prasasti Kedukan Bukit.

Setelah itu ada informasi dari penjelajah dari Tiongkok I Tsing bahwa pada abad keenam ia pernah belajar agama Budha di salah satu daerah di khatulistiwa yang pada masa itu dikenal sebagai Mina Kangwa atau daerah Sungai Kembar yang dimaksudnya adalah pertemuan Sungai Kampar Kanan dengan Sungai Kampar Kiri. (TR/MCR/)