Selasa, 21 Agustus 2018

Smart Cities 2019, Melistriki 100 Kota Pintar di Indonesia

TOPRIAU,JAKARTA - Kementerian Dalam Negeri Indonesia memasang target untuk mengubah 100 kota/kabupaten menjadi kota-kota pintar (smart cities) pada tahun 2019. Jim Schnieders, Senior Vice President and Managing Director untuk bisnis EPC Power dari Black & Veatch, merefleksikan peluang tersebut.

Membangun sebuah kota pintar (smart city) mudah dibayangkan, namun penuh tantangan dalam penerapannya. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan setelah Anda membuat keputusan untuk mengaktifkan data agar dapat  membuat komunitas Anda lebih layak huni, berkelanjutan dan terkoneksi mulai dari pertanyaan mengenai pembiayaan dan keterlibatan para pemangku kepentingan hingga advokasi teknologi dan teknologi informasi (TI) pemerintahan.

Mewujudkan smart city pada kenyataannya sering diawali dengan penerapan serangkaian perubahan kecil yang berkontribusi pada perubahan secara keseluruhan. Jalan menuju smart city penuh dengan rintangan: anggaran yang ketat, prioritas yang tidak sejalan, dan publik yang skeptis.

Namun demikian, inisiatif smart city yang dilakukan oleh kota Jakarta, Bandung dan Makassar telah menjadi contoh, mendemonstrasikan bagaimana kepemimpinan, visi, kolaborasi, dan keterlibatan pemain lokal dapat membantu mengatasi semua keraguan yang ada.

Proyek Smart City Jakarta menjadikan ibu kota sebagai lokasi populer bagi perusahaan rintisan (startup)  berbasis teknologi dan perusahaan seperti Trafi untuk aplikasi transportasi dan Qlue untuk aplikasi komunikasi dengan warga.

Di Bandung Command Center, program seperti E-budgeting memberikan transparansi mengenai belanja pemerintah. Makassarmemposisikan diri sebagai pusat data Indonesia untuk kawasan timur, melalui inisiatif smart city termasuk penggunaan teknologi Smart CCTV.

Atribut utama smart city

Kebutuhan akan inovasi energi menjadi dasar kesuksesan smart city. Secara global, perusahaan layanan publik memodernisasi jaringan mereka, memberdayakan pelanggan dan mengintegrasikan pasar baru, model bisnis, serta teknologi. Hal ini memberikan peluang bagi perusahaan layanan publik untuk memfasilitasi kota-kota yang terkoneksi dengan memanfaatkan teknologi jaringan mereka.

Atribut utama lainnya dari smart city adalah peningkatan kelestarian lingkungan. Menggabungkan inovasi di bidang energi dan lingkungan yang berkelanjutan memiliki potensi untuk menciptakan lanskap energi yang berbeda dari pembangkit listrik tenaga batubara terpusat dan berskala besar seperti yang telah ada selama ini.

Energi terbarukan akan berperan lebih besar dalam memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat. Kemungkinan besar, kita akan melihat penggunaan energi matahari yang jauh lebih besar kedepannya. Hal ini akan dicapai melalui kombinasi teknologi tenaga surya dan jaringan tenaga listrik mikro (microgrid).

Di smart city, daerah yang menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan akan memiliki skala kecil, terhadap pembangkit listrik tenaga batubara konvensional, tetapi tersebar dan dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk menyediakan pasokan listrik yang handal, mampu memenuhi kebutuhan kota modern yang berfluktuasi, model pembangkit yang menyebar ini perlu untuk dikelola dan didistribusikan oleh jaringan pembangkit mikro lokal.

Kebutuhan smart city akan daya listrik akan menjadi sedemikian rupa sehingga meskipun terjadi pertumbuhan cukup besar dalam penggunaan energi terbarukan, pembangkit beban dasar berbahan bakar fosil akan tetap dibutuhkan di masa mendatang. Jadi peran lain dari jaringan pembangkit mikro adalah untuk mengintegrasikan energi intermiten dari beberapa sumber energi terbarukan dengan pembangkit beban dasar berbahan bakar fosil. (TR/Rls)