Jumat, 13 Desember 2019

Sidang Perkara Penggelapan Harta Di Dumai, Majelis Hakim Pertanyakan Uang 1,2 Milyar

TOPRIAU, DUMAI - Sidang lanjutan perkara penggelapan harta dengan terdakwa Abeng di Pengadilan Negeri Dumai kembali di gelar dengan agenda mendengarkan keterangan dua saksi yang di hadirkan Jaksa Penuntut Umum. Kamis, (14/11/19)


Dalam persidangan kali ini, jpu menghadirkan dua saksi masing - masing Arini  alias acin  (42) tahun yang merupakan istri terdakwa dan Nurherlina (36) tahun yang merupakan advokat Arini pada persidangan ini menjadi saksi.


Persidangan yang digelar di ruang sidang utama Putri Tujuh Pengadilan Negri Dumai di pimpin ketua majelis hakim Hendri Tobing SH didampingi dua hakim anggota Naibaho SH dan Alfonso Nahak SH. Sedangkan dari JPU Hengky Munthe serta Kuasa Hukum terdakwa Casarolly  sinaga cs dan terdakwa Abeng yang ikut di hadirkan dalam persidangan.


Saksi Arini yang merupakan istri terdakwa memberikan keterangan kepada majelis hakim, bahwa terdakwa menuntut hak pembagian harta yang menurut saksi merupakan harta bersama yang tidak dipenuhi terdakwa setelah membuat perjanjian kesepakatan.


Saksi menyebutkan terdakwa memiliki dan menguasai uang 1,2 milyar yang terdapat di tiga buku tabungan, juga akta tanah dan satu ruko yang akan dibagi terdakwa sesuai  perjanjian kesepakatannya dengan imbalan membebaskan terdakwa dari kasus KDRT yang menjeratnya.


Sementara itu, majelis hakim mempertanyakan kepada saksi Arini tentang penuturannya atas keberadaan uang senilai 1,2 Miliar Rupiah dari 3 buku tabungan, yakni Bank Mandiri dan Bank BNI. Namun dalam persidangan yang ada bukti cuman 2 buku tabungan saja yang masing-masingnya berisi uang untuk Bank Mandiri sekitar 33 juta Rupiah dan Bank BNI sekitar 3 juta Rupiah.


Sedangkan  keterangan dari saksi II berbeda dgn keterangan saksi I. Saksi II yang merupakan seorang advokat mengaku ikut mendampingi  dan membuat kerangka perjanjian kesepakatan yang kemudian dinotariskan di hadapan pejabat notaris suwandi yang dihadiri sejumlah saksi.


Namun semua konsep perjanjian yang dibuat saksi Arini semuanya dibantah oleh Terdakwa Abeng. Karena itu semua sudah direkayasa atau fiktif belaka, dan terkuak dari pengakuan saksi I merupakan istri terdakwa bahwa perjanjian kesepakatan  itu hanya di bawah tangan.


Usai sidang kuasa hukum terdakwa Abeng, Casarolly ketika dikonfirmasi mengatakan, “keterangannya saksi 1 terkait permintaan Terdakwa untuk berdamai dan jumlah nilai uang 1.2 M,patut diduga rekayasa, karena ketika Kami pertanyakan, hanya saksi tersebut yang mengetahui hal itu,” ujar rolly.


“fakta hukumnya Tidak ada orang lain atau alat bukti yang menguatkan keterangan saksi tersebut, ” tambahnya.

“Kemudian, kami sempat menolak saksi 2 karna saksi tersebut tidak ada dalam berkas perkara serta saksi merupakan advokat pelapor yang di nilai keterangan berpihak,  memang kalau didalam KUHAP tidak mngatur, tapi persidangan pidana kan mencari kebenaran materiil dengan pemeriksaan yg obyektif,”


“Dan fakta hukumnya kasus ini menurut kita tidak masuk logika, dan seperti dipaksakan, terdakwa masih  suami sah dari pelapor dituduh mnggelapkan harta, dan surat perjanjian kesepakatan ternyata di bawah tangan,” tutup Cassarolly.


Sidang perkara penggelapan harta di Pengadilan Negeri Dumai akan kembali dilanjutkan pada hari Selasa tanggal 19 nov  2019.


*Dekatra