Sidang Kasus Pembunuhan Daud Hadi di Pelalawan Alot, Saksi Mahkota dan Penasehat Hukum Saling Tuding

TOPRIAU, PANGKALAN KERINCI - Sidang kasus pembunuhan Daud Hadi dengan terdakwa Kepala Desa (Kades) dan Sekretaris Desa (Sekdes) Sialang Godang Kamis (4/4// 2019)  kemaren dengan agenda mendengarkan keterangan saksi mahkota sedikit membuat suasana tegang karena antara penasehat hukum terdakwa Eriyanto dengan saksi saling tuding pernyataan dan pertanyaan berbelit belit.

Dalam persidangan yang dipimpin Majelis Hakim Melinda Aritonang SH, penasehat hukum Eriyanto Jasman Piliang SH  berusaha membolak balik pertanyaan kepada saksi. Suasana ini terkesan persidangan berjalan alot bahkan sempat terungkap kata kata oleh Penasehat Hukum "kamu sudah berbelit belit",  namun tanpa pikir panjang saksi Sapri alias Isap langsung membalikan penshat hukum "bapak yang bertanya berbelit belit makanya saya jawab berbelit juga", jelas Isap..

Sapri alias isap dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Pelalawan mengakui dirinya sebagai eksekutor dalam pembunuhan Daud Hadi di Desa Sialang Godang namun perbuatan itu dilakukan demimendapatkan ombalan sebesar Rp10 juta.

"Saya lakukan pembunuhan ini karena untuk mendapatkan uang sebesar Rp10 juta, itupun saya lakukan adanya keinginan dari Kades Eriyanto dan Sekdes Temi karena sebelum melakukan itu saya berkoordinasi dengan kedua orang ini,setelah ada kesepakatan lalu saya melakukan sesuai dengan apa yang diinginkan Kades dan Sekdes", jelasnya.

Lebih jauh Isap memaparkan bahwa dalam perencanaan untuk menghilangkan nyawa Daud Hadi memang dari mereka berdua, yang mana saat dirinya menawarkan untuk membunuh Daud Hadi Sekdes Temi nyuruh saya Nelpon dan jumpai Kades Eriyanto setelah saya telpon dan dijumpai Kades mengatakan kalau bisa habisinya jangan di Desa ini kalaupun mati disini tapi mayatnya buang di daerah lain.

"Saat saya tanya tentang dana operasional pak wali bilang soal dana itu minta saja sama Temi, dengan jarak beberapa hari Temi nelpon saya mengatakan Isap ini sudah ada ni dimana kita jumpa", jelas Isap.

Pada saat itu, dirinya mejumpai sekdes di belakang Kantor Desa Sialang Godang di dalam kebun sawit, kemudian Temi langsung mengasih uang sebagai DP sebanyak empat juta rupiah dan menjanjikan dilunasi setelah pekerjaan selesai.

"Setelah tugas saya selesai saya berangkat ke luar daerah, karena saya tak punya rekening sisa uang enam juta rupiah saya nyuruh Temi ngirimkan lewat nomor rekening abang ipar saya , kiriman pertama saya terima lima juta rupiah dan terakhir satu juta rupiah sementara semua uang tersebut saya gunakan untuk kebutuhan hidup saya", terang Isap.

Terdakwa Eriyanto saat ditanya Majelis Hakim tentang keterangan saksi Sapri alias Isap mengatakan ada benarnya dan ada yang salah diantaranya pertemuan membicarakan tentang rencana pembunahan .

Ketua Majelis hakim Melinda Aritonang yang beranggotakan Nurrahmi SH dan Rahmat Hidayat Batu Bara SH ST MH setelah mendengarkan keterangan saksi menunda persidangan sampai tanggal 23 April 2019 dengan Agenda mendengarkan keterangan saksi  meringankan yang akan dihadirkan oleh Penasehat Hukum tuturnya.(ishar.D)