Jumat, 15 Desember 2017

Olah Biji Getah Jadi Bahan Baku Panganan, Anak Jati Bengkalis Juara Ditingkat Nasional

TOPRIAU, BENGKALIS - Berbicara tentang karet alias getah, yang mempunyai nama ilmiah hevea brasilinsis, pasti semua orang tahu. Terlebih bagi masyarakat di Sumatera, terkhusus di Provinsi Riau dan Kabupaten Bengkalis yang sebagian punya kebun karet dan bahkan berprofesi sebagai penakek/penyadap karet.

Sempat mengalami kejayaaan, kini harga getah tidak lagi mempesona. Meskipun demikian, tidak menyurutkan petani menakek batang getah setiap pagi. Yang penting  bagi petani, “susu” dari batang getah terus mengalir dan menetes. Ternyata tidak hanya persoalan harga, petani akan menghadapi waktu libur tetap, sehingga harus menggantungkan pisau sadap.

Melihat fenomena tersebut, membuat hati Dewi Melinda, S.Pd, terketuk untuk mencarikan solusi terbaik, supaya petani tidak terkutat dengan susu getah saja. Padahal, tidak hanya “susu”-nya, ada bagian lain yang selama ini terabaikan, bila diolah mendatangkan rupiah. Yakni, biji getah alias biji karet, atau sebagian masyarakat Bengkalis menyebutnya buah para.

Berawal ketika datang ke kebun karet milik orang tuanya, Putri dari pasangan Janawiyanto alias Heri dan Iis Sugiarti alias Tutik ini, menyaksikan biji getah berserakan, tidak ada yang pedulli. Kalaupun ada yang mengutip, hanya segelintir saja, itupun sebagai bibit cantuman (getah kawin).

Lantas lulusan Jurusan Sejarah, FKIP Universitas Riau ini, berpikir menjadikan biji getah bernilai ekonomis. Bersama sang ibu, Dewi mengutip biji getah ini, untuk diolah  menjadi panganan atau cemilan, yang kelak bernilai ekonomis.

“Awalnya, bingung mau diolah jadi apa. Lantas muncul ide, membuat kerupuk biji getah (buah para),” ujar guru pelajaran Sejarah dan Pembimbing UMKM KIR Al Banna, MAN 1 Bengkalis ini.

Dengan tekad dan kemauan yang kuat untuk mengolah biji getah itu menjadi bahan baku panganan. Untuk mengolah biji getah ini, Dewi mengajak anak didiknya yang tergabung dalam UMKM KIR Al Banna MAN 1 Bengkalis, sebagai pelajaran tambahan alias ekstra kurikuler. Mulai dari membuka cangkang, memisahkan dagingnya dan merebus.

Setelah mengetahui rasa dan kelezatan kerupuk biji getah yang diolah, membuat anak pertama dari dua bersaudara ini semakin tertantang menambah varian lainnya dari biji getah ini. Mulai dari sambal balado biji getah, coklat biji getah, biskuit biji getah bahkan pakan ternak ayam dan ikan.

Tidak sampai di situ, agar temuannya diterima masyarakat dan memenuhi strandar kesehatan maupun halal. Dewi mau tidak tinggal diam, dara Desa Berancah, Kecamatan Bantan ini, terus putar otak, agar temuannya bisa dikonsumsi khalayak ramai. Lantas mendaftarkan panganan dari biji getah kepada pihak terkait.

“Alhamdulillah, sudah dinyatakan lulus uji Puskesmas, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam waktu dekat BPOM akan segera turun ke MAN 1 Bengkalis,” tandas Dewi.

Agar temuannya dalam mengolah panganan biji getah semakin dikenal, pada bulan Agustus 2017 Dewi bersama anak muridnya mengikuti lomba inovasi yang ditaja Balitbang Bengkalis. Alhamdulilah, berkat kesungguhannya, di ajang itu Dewi dengan produk DewRA Paragu memperoleh nominasi 5 besar sebagai guru pembimbing siswa dalam inovasi.

Berbekal nominasi lima besar itu, pada 11 November 2017, Dewi dibantu sang mama Iis Sugiarti alias Tutik, ikut perlombanaan inovasi pengelolaan panganan berbahan baku ungulan lokal Riau di Balitbang Provinsi Riau.

Dari pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB, di hadapan sang juri, Dewi bersama sang mama, memperagakan pembuatan cemilan dengan nama DewRa biskuit Paragu. Makna dari DewRa adalah Dewi mengolah buah para (biji getah), Paragu gabung dari buah para dan sagu.

Berkat kesabaran, mengolah biji getah alias buah para, maka Sabtu 11 November 2017, DewRa mampu menyisihkan para inovator pangan se-Provinsi Riau bahkan dari Kota Solo, Jawa Tengah. DewRa berhasil meraih juara kedua, sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis di kancah provinsi.

“Awalnya tidak percaya, karena peserta dari seluruh Provinsi Riau bahkan dari Solo Jawa Tengah. Juara satu dari kueh kering ikan patin dari Bagian Gizi Pekanbaru. Tapi nyatanya Dewi dinyatakan sebagai pemenang juara dua pada lomba bergengsi tingkat Provinsi Riau,” ungkapnya.

Atas keberhasilannya meraih juara kedua, Dewi mengucapkan terima kasih kepada Balitbang Bengkalis yang telah melakukan pembinaan, Kepala MAN 1 Bengkalis Sudirman, dan siswa MAN 1 Bengkalis.

Memang juara kedua, selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya selama ini, juga semakin memperkenalkan produknya. Terbukti, sejak saat itu, beberapa instansi memesan produk DewRa untuk dipasarkan. Mulai dari Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kabupaten Kampar dan Kadin Provinsi Riau sudah memesan. Rencananya, pihak Kadin Provinsi Riau akan memasarkan DewRa di Bandara Sultan Syarif Kasim di Pekanbaru. “Alhamdulillah, produk panganan dari biji getah mulai gemari,” tandasnya.

Soal bahan baku biji getah. Saat ini, Dewi dan kawan-kawan menampung biji getah dari petani dengan harga Rp3.000 per kilogram. Memang saat ini, biji getah yang dibeli dari petani belum banyak, karena masih terbentur modal. Tapi kelak, katanya, bukan mustahil, dia akan menampung biji getah dalam kapasitas besar. “Doakan saja, kelak kami jadi pengusaha biji getah,” ungkapnya, serasa tersenyum simpul.

Dewi semakin larut dengan temuannya. Buktinya, untuk untuk memudahkan kerja dalam mengolah biji getah, ternyata Dewi bersama tiga anak didiknya, M Razip, Surya Maulana dan Sahrudin menciptakan mesin pemecah biji getah. Memanfatkan Sanyo, ternyata mesin buatannya sudah sangat membantu dalam memecah biji getah.

Nama mesin temuannya, dilebeli Mrs UD. Dewlateks, yakni gabungnan nama dari M Razip, Surya Udin dan Dewi temuan biji getah.(TR/MCR)