Senin, 20 Agustus 2018

Taja Kenduri Puisi XI, Komunitas Seni Rumah Sunting Berpuisi di Rupat Utara

TOPRIAU, RUPAT UTARA - Kegiatan dua bulan sekali yang ditaja Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) kembali dilaksanakan. Kegiatan ini dinamakan Kenduri Puisi. April ini memasuki Kenduri Puisi XI yang dilaksanakan di Desa Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara, tepatnya tanggal 7-8 April, Sabtu dan Minggu ini.

Panitia sudah melihat, datang dan berkomunikasi langsung dengan berbagai pihak terkait beberapa hari lalu. Antara lain, camat, lurah, tokoh budaya, pemuda setempat, komunitas seni dan beberapa lainnya. Kegiatan akan dilaksanakan dua hari satu malam di Pulau Rupat.
''Kami sudah turun langsung, survey lokasi dan menjalin komunikasi dengan camat dan lurah serta berbagai pihak supaya kegiatan memperkenalkan sastra ini ramai diikuti masyarakat nanti. Alhamdulillah semua menyambut baik,'' jelas Rizki Kurniawan, koordinator Kenduri Puisi XI.
Dijelaskan Rizki, kegiatan akan dilaksanakan mulai Sabtu Siang (7/4) atau setelah rombongan seniman dan penyair datang dari Pekanbaru. Kegiatan diawali dengan sambutan selamat datang oleh camat dan lurah. Dilanjutkan dengan menggali seni tradisi zapin api bersama Maestro, yakni Hapiz, bincang dan menulis puisi, serta panggung puisi senja di tepi pantai. Kegiatan sore ini juga akan dihadiri anak-anak sekolah tingkat SD, SMP dan SMA sederajat beserta guru-guru.
Kegiatan dilanjutkan dengan puncak Kenduri Puisi pada malam harinya di lapangan terbuka bawah mercusuar, tepi pantai. Lokasi ini lebih ramai karena memang berada di tengah perkampungan. Di sinilah penyair bersama pejabat setempat dan masyarakat akan berpuisi bersama.
''Dalam pertemuan dengan camat dan lurah, rangkaian kegiatan sudah disetujui, termasuk lokasinya. Semua perlengkapan panggung mulai dari sound dan lighting disiapkan pak lurah dan pak camat. Begitu juga dengan tempat menginap kami. Mereka sangat antusias dan mendukung apalagi perkembangan seni di Pulau Rupat memang sangat bagus,'' sambung Rizki.
Camat Rupat Utara, Agus Sofyan, menyambut baik kegiatan ini. Dikatakannya, di Rupat, kegiatan seni yang sering  muncul dan marak memang banyak, tapi puisi memang jarang. 
''Komunitas seni di Rupat ini banyak. Artinya keseniannya banyak. Ada tari, musik, teater, film pun ada. Sastra lisan seperti syair dan pantun juga ada. Kalau puisi ini agak kurang. Apalagi Kenduri Puisi. Apa pulak ini bendanya. Biasanya kalau kenduri makan-makan, tapi ini puisi. Berarti ramai-ramai berpuisi. Ini menarik biar anak-anak di sini juga tahu bagaimana menulis dan membaca puisi yang baik,'' ungkap Camat.
Camat berusaha akan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meramaikan kegiatan ini. Kesenian lokal yang ada di sana juga akan turut ditampilkan pada malam puncak. ''Kita ramaikan,': sambungnya. 
Hal senada juga diungkapkan Kepala Desa Teluk Rhu, Mansur. Ia sangat bersemangat. Selain menyiapkan tempat menginap untuk peserta dari Pekanbaru, ia juga menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan, seperti tempat pertemuan dengan siswa saat belajar menulis dan membaca puisi nanti, serta lokasi malam puncak di tengah perkampungan. ''Insyaallah, kalau bisa saya turut membaca puisi nanti,'' katanya pula.
Pimpinan Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, sangat bersyukur dengan antusias masyarakat Rupat Utara, khususnya Desa Teluk Rhu. ''Kerja seni, kerja sastra ini sudah kami lakukan sejak lama. Kenduri Puisi sendiri sudah memasuki tahun kedua. Dari 12 kabupaten/kota, empat lagi yang belum, termasuk Bengkalis, dan kami pilih Rupat Utara. Semua ini kami lakukan bersama seniman dan penyair Riau yang bergabung untuk datang secara swadaya. Patungan untuk segala keperluan. Inilah kenduri, saling membantu, gotong royong sehingga pesta saatra bisa berjalan baik. Camat, lurah, teman-teman komunitas di Rupat Utara sangat luar biasa,'' kata Kunni.
Kenduri Puisi hanyalah salah satu cara mengenalkan sastra secara menyeluruh. Tujuan akhir dari kegiatan ini sendiri, jelas Kunni, adalah lahirnya penyair dan penulis-penulis berbakat dari berbagai pelosok negeri, terus maju ke tingkat nasional melalui lomba-lomba puisi untuk siswa dan pelajarserta lahirnya karya-karya puisi yang ditulis penyair dan peserta kenduri sampai menjadi sebuah buku kumpulan puisi bersama. (Rls)