Jumat, 22 November 2019

Pelalawan Layak Punya Semboyan Hujan Mana Palungku Panas Dimana Maskerku

TOPRIAU, PANGKALAN KERINCI – Kondisi Kabupaten Pelalawan dalam beberapa kurun waktu belakangan kondisinya sangat memprihatinkan karena penuh dengan bencana baik di musim kemarau maupun musim hujan. Letaknya di dataran rendah dan penuh dengan lahan gambut menjadi “santapan” bagi orang yang mecari nafkah, “Celakanya” banyak dari para pencari nafkah ini, hanya memikirkan diri mereka tanpa memikirkan keselamatan orang lain.

Bahkan Kabupaten Pelalawan sangat layak punya semboyan “kemarau dimana maskerku ,hujan lebat dimana palungku” ,karena dari dalu daerah ini setiap tahunnya pasti mengalami kebakaran lahan dan kebanjiran ,kalau pada musim kemarau .masyarakat membutuhkan masker akibat dari kerumunan asap kebakaran lahan ,sedangkan di musim hujan membutuhkan tenda untuk warga Pelalawan yang meungsi dan palung atau bayang untuk meninggikan barang barang di rumah mereka agar tidak terendam air.

Menurut salah seorang warga Pelalawan yang usianya sudah mencapai delapan puluh tahun yang enggan ditulis namanya kepada wartawan baru baru ini mengatakan, berbicara soal kebakaran lahan dan banjir itu bukan hal yang aneh di Pelalawan bahkan boleh dikatakan sudah makanan kita ,hanya saja dalam hal ini ada perbedaan yang mendalam bagi masyarakat Pelalawan.

Kalau zaman dahulu lahan dibakar lingkungan yang rusak hanya sekitar lahan yang terbakar ,namun dengan masuknya perusahaan sawit maupun pabrik kertas dan tekstil, kebakaran lahan luasnya 100 kali lipat bahkan asapnya bisa sampai ke luar negeri.

Kondisi ini tidak bisa dipungkiri karena peristiwa tersebut hampir tiap tahun terjadi bahkan sudah jadi agenda rutin bagi alam, kondisi ini disebabkan beberapa faktor diantaranya  semakin tingginya minat investor menanamkan modalnya untuk membangun pabrik kelapa sawit di Pelalawan bahkan dalam waktu dekat ini akan dibangun Sekolah Tekhnologi Pengelolaan Sawit Indonesia.

“Jadi wajar saja antusias masyarakat tinggi untuk buka lahan, selain itu juga Pelalawan adalah daerah gambut ,jadi timbulnya sangat rentan jangankan disengaja ,puntung rokok saja dibuang sudah hidup apinya”, terangnya.

Terkait dengan banjir ini termasuk agenda tahunan juga di Pelalawan dan bagi masyarakat asli wilayah pesisir ini dulunya ditunggu tunggu,karena dengan adanya banjir ekonomi menjadi naik, karena mereka yang hidup dengan membalak dengan banjir memudahkan mengeluarkan kayu ke Pinggir Sungai Kampar,namun dibalik itu pada musim banjir mereka akan mempertanyakan Palung tempat mereka mendirikan barangnya terkadang untuk bertahan hidup di daerah tersebut.

“Jadi wajar Pelalawan punya semboyan kemarau mana maskerku ,hujan turun dimana Palung atau wayangku”, tuturnya.

Ditempat terpisah warga Teluk Meranti berinitial TN saad di jumpai wartawan blum lam ini mengaminkan hal diatas dan menambahkan, terkait dengan musim panas dan hujan, Pelalawan ini sudah tidak perlu dibicarakan lagi karena sudah dari dulunya, kalau dulu banjir kayu banyak keluar tapi sekarang banjir masyarakat banyak kegatalan sehingga obat gatal laris.

“Kalau dulu musim panas orang  sibuk di ladang tanam jagung dan bersihkan lahan  dengan membakar tapi tidak merusak lingkungan dan tidak menyibukkan aparat Polri TNI ,tapi sekarang jangankan aparat, masyarakat saja harus bekerja untuk memadamkan api yang bisa melahap ribuan hektar lahan”, teranganya.(ishar.D)