Minggu, 19 Agustus 2018

DPRD Riau, Berencana Bentuk Perda Badan Migas

TOPRIAU,PEKANBARU - Saat ini Blok Rokan yang berada di di empat Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Bengkalis, Siak dan Kampar tersebut dikelola oleh PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI). Untuk itu, Komisi IV DPRD Riau tengah mempersiapkan upaya untuk mengelola ladang minyak Blok Rokan yang kontraknya akan segera habis tersebut.

 

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Anggota Komisi IV DPRD Riau, Asri Auzar, selama ini Riau banyak dirugikan dengan pengelolaan ladang minyak oleh perusahaan asing ini. Selain pembagian keuntungan yang minim, perhitungannya juga tidak jelas.

 

"Bahkan kita sering ditipu dengan menyebutkan minyak kita akan segera habis. Padahal menurut diskusi kita dengan praktisi dan akademisi migas Riau, cadangan minyak masih ada sekitar 70 persen lagi," kata Politisi Partai Demokrat. Kamis (26/7)

 

Selanjutnya, Asri menjelaskan dengan cadangan minyak tersebut, jika dikelola oleh daerah akan memberikan banyak pemasukan. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah merumuskan pembentukan perda yang mengatur badan pengelola migas di Riau.

 

"Kita akan bentuk BUMD nanti yang akan fokus mengelola migas. Selain itu BUMD ini nantinya juga akan bisa menggarap PI dari kontraktor migas lain di Riau," tambah Asri.

 

Mengenai Participating Interest (PI) ini, ungkap Asri, daerah berhak mendapatkan saham sebesar 10 persen melalui BUMD yang ditunjuk. PI ini sendiri sudah ada sejak tahun 2016 dan hingga saat ini belum pernah masuk ke kas daerah.

 

"Ini juga akan kita kejar. Jika sejak tiga tahun ini dikumpulkan, bisa memberikan pemasukan hingga Rp8 triliun," ungkap Asri.

 

Ia menegaskan bahwa upaya mengelola sendiri Blok Rokan ini bertujuan untuk Riau ke depan.

 

Sementara itu, Ladang minyak Blok Rokan merupakan ladang minyak terbesar di Indonesia yang terletak pada beberapa kabupaten di Riau yakni Rohil, Bemgkalis, Siak dan Kampar. PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) yang kini bernama PT Chevron Indonesia telah 50 tahun mengelolanya dan berakhir tahun 2021. Pada tahun 2017, ladang ini menghasilkan minyak sekitar 240 ribu barrel per hari dan cadangannya kini diperkirakan 1,17 juta barrel.

 

Diperoleh keterangan, Chevron berniat ingin tetap mengelola ladang minyak itu. Dengan demikian, Riau hanya memperoleh bagian 10 persen yang diatur undang-undang sebagai daerah penghasil. Padahal, daerah ini bisa dapat jauh lebih besar dari ketentuan itu kalau dikelola sendiri yang juga dibenarkan berdasarkan ketentuan. (TR)

 

sumber; cakaplah.com