Jumat, 22 September 2017

Antara Pembela dan Penjual Agama

Oleh : Ali Akbar bin Aqil

TOPRIAU - Alkisah, ketika menjadi Khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz pernah mengirimkan pasukannya ke Romawi untuk berperang. Sayang, ternyata mereka mengalami kekalahan dan ada 20 tentara Islam ditawan oleh pihak Romawi. Kemudian Kaisar Romawi minta agar salah satu tawanan dihadapkan kepadanya untuk dibujuk mengikuti agamanya dan menyembah berhala.

Kepada tawanan pertama, kaisar berkata, “Jika kau mau masuk agamaku dan menyembah berhala, maka kamu akan kujadikan amir (penguasa) di sebuah wilayah yang besar. Kamu juga akan kuberi lencana, pakaian kebesaran, piala penghargaan, dan terompet komando. “Akan tetapi jika kamu menolak masuk agamaku, maka kamu akan kubunuh dan lehermu akan kupenggal dengan pedang!” ancam kaisar. “Aku tidak sudi menjual agamaku dengan dunia!” jawab tawanan dengan tegas.

Maka dibunuhlah tawanan Muslim itu di alun-alun dan kepalanya dipenggal dengan pedang. Aneh tapi nyata, kepala itu terbang mengelilingi lapangan sambil membaca ayat: “Hai jiwa yang tenang. kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Melihat kejadian itu, kaisar murka dan minta agar tawanan kedua dihadapkan. “Masuklah ke dalam agamaku. Kamu akan kujadikan amir di sebuah kota besar dan lehermu tidak akan kupenggal sebagaimana temanmu itu,” rayu si kaisar.

“Aku tidak sudi menjual agama dengan dunia. Meskipun kamu kuasa menebas leher, namun kamu tidak kuasa memenggal iman,” kata tawanan kedua dengan mantap.

Maka dipenggallah kepala tawanan kedua itu dan kepalanya juga terbang berkeliling lapangan tiga kali sambil membaca ayat: “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, buah-buahannya dekat di dalam surga yang tinggi.” (QS. Al-Haqqah [69]: 21-23)

Menyaksikan kejadian kedua tersebut, kaisar bertambah murka dan minta agar tawanan ketiga dihadapkan. “Apa yang akan kamu katakan? Maukah kamu masuk agamaku dan kuangkat sebagai amir?” tanya kaisar.

“Aku bersedia masuk agamamu dan aku memilih dunia dari akhirat,” jawab tawanan ketiga. Ternyata dia memilih untuk menukar agamanya dengan dunia. “Catatlah ia sebagai contoh. Berikan kepadanya pakaian kebesaran, piala penghargaan, dan lencana,” perintah kaisar kepada menterinya.

“Wahai Kaisar, bagaimana aku bisa memberi dengan tanpa mengujinya,” kata menteri yang cerdik ini. “Jika ucapanmu benar, bunuhlah salah seorang temanmu, baru kami bisa mempercayai ucapanmu!” perintah sang menteri kepada tawanan ketiga itu.

“Catatlah ia sebagai contoh!” perintah kaisar dengan nada senang ketika ternyata si tawanan itu mau membunuh kawannya sendiri. “Wahai Kaisar, sungguh tidak masuk akal jika Tuan mempercayai ucapannya. Ia tidak menjaga hak temannya yang sejak kecil hingga besar telah bersamanya. Maka bagaimana mungkin ia dapat menjaga hak kita?” tutur sang menteri.

Akhirnya, Kaisar mengeluarkan perintah agar tawanan malang itu dibunuh dan dipenggal kepalanya. Begitu terpenggal, kepala itu terbang mengelilingi lapangan tiga kali sembari membaca ayat: “Apakah kamu hendak merubah nasib orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?” (QS. Az-Zumar [39]: 19).

Hikmah di Balik Kisah

Dua tawanan pertama merupakan gambaran keteguhan hati memegang prinsip-prinsip yang paling dasar, iman atau keyakinan. Keteguhan yang terwujud pada sikap tegas dalam menolak adanya campur tangan terhadap kedaualatan iman inilah yang harus berujung kematian. Bukan kematian itu sendiri yang ditakuti, justru kematian merupakan cita-cita tertinggi bagi setiap pejuang agama. Bagi mereka, seseorang tidak berjuang pun akan mati, berjuang pun bisa terkena resiko kematian. Jadi, pilihan mereka adalah bagaimana hidup mulia atau mati sebagai martir di jalan Allah.

Sosok-sosok hamba pilihan Allah dari para Nabi dan Rasul, mereka gagah tak putus asa dalam menghadapi bermacam teror dan intimidasi dari kaumnya yang membangkang. Dengan gangguan seperti itu, makin memantapkan langkah mereka untuk berjuang membela agama Allah. Perhatikan perjuangan Nabi Ibrahim saat berhadapan dengan Raja Namrud, Nabi Musa kala berhadapan dengan Fir`aun, dan Nabi Muhammad saat berhadapan Abu Jahal.

Sementara tawanan ketiga tidak lain adalah gambaran buram betapa murah dan dangkalnya kemantapan imannya. Ia rela menggadaikan agama Tuhan dengan sedikit dunia yang fana` ini.

Sekarang di depan mata kita sendiri, kita menyaksikan para pembela agama berjumlah puluhan, ratusan, bahkan jutaan yang tersebar di semua tempat, di beberapa organisai. Mereka punya musuh yang sama: sekulerisme, liberalisme, kapitalisme global dengan memandang Amerika dan Barat sebagai musuh utama.

Islam sebagai sebuah ajaran yang suci meniscayakan seruan pengorbanan dalam membela dan mempertahankan kesucian. Tidaklah salah bila salaf kita pernah mengumandangkan slogan, “Ad-Diinu Tadhhiyyah (Agama itu terwujud lewat pengorbanan).

Maka, saksikanlah bagaimana keberanian Imam Ali menyabung nyawa dengan tidur di pembaringan Sayyidina Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada detik hijrahnya tanpa keragu-raguan sedikit pun. Ingatlah pula, kesyahidan Imam Husain di padang Karbala demi membela kebenaran, kebenaran yang telah menjadi urat nadi seorang Husain. Bagi Husain, kebenaran yang membahayakan jauh lebih baik ketimbang kebatilan yang menyenangkan.

Lihatlah bagaimana para pejuang HAMAS melakukan perlawanan terhadap tentara Zionis Israel dengan gagah berani. Nyawa menjadi taruhannya. Mereka tahu bahwa persenjataan mereka jauh di bawah Israel, namun ada satu keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan perjuangan berlalu sia-sia. Hanya ada satu ketetapan dalam hati mereka: Israel harus dihapuskan dari peta dunia.

“Hidup bukan sekedar makan, minum, tidur atau berjalan di atas bumi. Dan mati bukan hanya terkubur dalam tanah. Itu bukan hidup dan bukan pula kematian. Tapi, hidup adalah mati yang menaklukkan sedang mati ada hidup yang ditaklukkan,” kata Imam Ali.

Para pembela agama Allah akan terus mengibarkan benderanya seiring dengan mafia-mafia kebatilan yang menyerukan kesesatan, kezaliman, penindasan. Para pembela agama Tuhan tak pernah tinggal diam melihat kesewenang-wenangan dan penindasan, hingga sesuatu yang menjijikkan, jika membiarkan Islam diinjak-injak kehormatannya tanpa dibela. Kata seorang penyair India, Syakil Badayuni, “Harapanku adalah ini, bahwa ketika mati aku masih bisa tersenyum. Dan ketika aku pergi, nama Muhammad tetap lekat di lidahku.”

Bila pejuang agama, pembela Al-Quran, pemelihara sunnah Nabi disebut-disebut sebagai teroris-fundementalis dan seabrek istilah-istilah yang dilesakkan oleh musuh-musuh Tuhan, “Maka saksikanlah! Saya adalah teroris…!,” demikian istilah Habib Rizieq Shahab.*

Penulis pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang. Pengasuh Grup Qolbun Salim



sumber: hidyatullah.com