Jumat, 17 November 2017

Selamat Datang Pemimpin (Baru)


SEMBILAN Desember 2015 merupakan hari pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak se-Tanah Air. Tercatat, ada di sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 36 kota yang menggelar pilkada serentak.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Husni Kamil Manik, dalam Rapat Koordinasi Persiapan Akhir Penyelenggaraan Pilkada serentak Tahun 2015, Minggu (6/12) di Ruang Sidang Utama Gedung KPU  mengatakan persiapan pelaksanaan pilkada serentak tahun 2015 telah mencapai 99 persen.

“Sampai hari ini (Minggu, 6/12) persiapan sudah mencapai 99 persen. Dengan demikian maka perencanaan pelaksanaan Pilkada Tahun 2015, genap bisa kita selenggarakan," ujar Husni melaporkan.”

Beberapa indikator yang menjadi tolak ukur kesiapan tersebut antara lain, telah dilakukannya bimbingan teknis kepada penyelenggara sampai kepada tingkat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), surat suara yang 100 persen sudah tercetak, telah selesainya penyediaan alat kelengkapan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh daerah dan telah dibagikannya formulir C6 kepada pemilih.

Dalam rapat koordinasi yang dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara pemilu (DKPP), Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia, Pimpinan Tentara Nasional Indonesia, Kepala Badan Intelejen Negara dan 12 pimpinan partai politik ini Husni menyebutkan bahwa sudah tidak terdapat lagi permasalahan pencairan anggaran.

Dari 269 daerah, 180 diantaranya sudah menerima transfer seluruh dana hibah dari pemerintah daerah sedangkan 89 daerah sisanya telah menerima dana hibah dari pemerintah daerah kurang dari 100 persen.

Masyarakat juga akan dengan cepat memperoleh gambaran hasil pilkada karena KPU akan memberikan informasi hasil pilkada sementara dari hasil scan C1 yang diolah dalam Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG).

Tentunya disini tidak membahas lagi mekanisme pelaksanaan pilkada. Penulis hanya berharap kepada calon kepala daerah yang bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu di daerah masing-masing hendaknya memiliki jiwa besar seperti slogan yang didengung-dengungkan selama ini "Siap Kalah dan Siap Menang".

Dalam setiap kompetisi atau perlombaan, selalu ada yang menang, tetapi juga harus ada yang kalah. Kalau semuanya menang, atau semuanya kalah namanya bukan kompetisi.

Jika Anda siap mengikuti sebuah kompetisi, anda harus bersiap untuk menang, tetapi juga harus siap kalah. Sebagian besar dari kita, mempersiapkan diri untuk menang dan melupakan untuk siap kalah.

Bahkan menurut penulis, siap kalah jauh lebih penting dari pada siap menang. Siap menang atau siap kalah merupakan bagian dari sportivitas. Orang yang tidak siap menang atau kalah berarti belum bisa dikatakan sportif.

Kemenangan bisa dianggap rejeki atau keberuntungan dari kita. Kekalahan membuat kita bisa untuk berefleksi apa yang menyebabkan kita kalah.  Refleksi hendaknya kita lakukan ke dalam diri kita, bukan ke arah luar (orang lain, red). Orang yang selalu menyalahkan orang lain, berarti belum bisa dikatakan sportif.

Kita harus bisa mengambil makna dari setiap peristiwa kemenangan ataupun kekalahan. Kekalahan hendaknya dijadikan motivasi untuk bisa bersemangat, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dalam mengikuti perlombaan, tentunya pernah kalah, tetapi juga pernah menang.  Dalam setiap kekalahan hendaknya selalu berefleksi ke dalam diri, agar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi tidak berulang di kemudian hari. Mengambil makna dari kekalahan jauh lebih bermakna daripada ketika mengalami kemenangan.

Jika anda sudah siap untuk menang, sekaligus siap untuk kalah, berarti anda sudah memiliki mental juara. Dengan pencapaian tersebut akan lahirlah pemimpin yang baik dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun mendatang (periode 2015-2020).  

Selamat berkompetisi, semoga kami memperoleh pemimpin yang amanah dan mampu mensejahterakan masyarakatnya di masing-masing daerah serta membawa daerahnya lebih baik dari periode sebelumnya.

Tunaikanlah janji-janji selama pelaksanaan kampanye, karena pertanggungjawabannya bukan hanya semata kepada masyarakat, tetapi kepada Allah SWT.
Satu pesan kami kepada pasangan calon ataupun tim yang kalah dalam kompetisi ini, hendaknya menjaga hati dan perasaan, sehingga pilkada berjalan aman dan tertib sesuai yang diharapkan bersama. Sekali lagi, setiap kompetisi ada kalah dan ada yang menang bukan? Selamat datang pemimpin (baru) kami! ***

*) Amril Jambak, penulis pemerhati masalah sosial dan kemasyarakatan.