Jumat, 17 November 2017

TEROR BOM SARINAH YANG GAGAL GUNCANG PASAR

TOPRIAU- Teroris mese lalu menjadi kejadian menakutkan di berbagai negara. Ancaman tersebut, bisaterjadikapansajadan di manasaja, serta mengancam keselamatan jiwa setiap orang. Saat ini tidak ada tempat yang mandandapat dikatakan bebas dari ancaman terorisme. Prinsipteroris meadalah menyebarkan ketakutan di kalangan masyarakat termasuk mengguncang pasar.

Aksiteror yang terjadi di kawasan Sarinah, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusatpada 14 Januari 2016, sempat membuat pelaku pasar khawatir. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama siang kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) melorottajam 1,72%, ke level 4.459,32. Kelompok 45 saham unggulan yakni indeks LQ45 turun 4,17poinatau 0,53 persenkeposisi 789,13.Sedangkan kurs rupiah ditutup Rp13.907, turun tipis 0,52%.

Pelemahan IHSG tersebut, disebabkan aksijualsecara masal yang dilakukan para investor pasar modal, sehingga 190 saham emiten di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan signifikan.Kejadian Bom tersebut telah menimbulkan panic selling diantara para investor. DirekturUtama PT BEI, Tito Sulistio juga mengakui aksi jual masal secara mendadak tersebut merupakan respon akibat ledakan bom di kawasanSarinah. Secarapsikologis, kejadiantersebutmembuatperekonomian Indonesia terlihat rentan dengan berbagai macams entimen.

Kepanikan investor tersebut kembali mereda setelah melihat upaya pemerintah, bergerak cepat menangkap semua pelaku peledakan bom yang tidak bertanggungjawab tersebut. Sejumlah agenda penting pun tetap berlangsung tepat waktu. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak ditunda, meski lokasi kejadian aksi  teror tak jauh dari kantor pusat bank sentral
Keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan mendorong aksi beli di lantai bursa, sehingga pelemahan indeks tak terlalu dalam.

Pasar berbalik positif merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang memangkas sukubunga acuan 25 basis poin menjadi 7,25%. FASBI dan REPO rate juga dipangkas 25 bps menjadi 5,25% dan 7,75%. Keputusan ini sejalan dengan pernyataan BI sebelumnya bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makro ekonomi, serta mempertimbangkan pula dengan meredanya ketidakpastian pasarkeuangan global pasca kenaikan Fed-Fund Rate (FFR)
Sentimen pasar pun bergerak positif pasca terjadinya teror bomS arinah tersebut.

Data Bloomberg pukul 09.30 WIB pada Jum’at 15 Januari 2016 menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awalperdagangan di pasar bergerak menguat berada di posisiRp 13.894 per dollar AS, lebih kuat dibanding penutupan kemarin pada 13.907. Sementara Indeks Harga SahamG abungan (IHSG) padaawal perdagangan bergerak di zona hijau. IHSG dibuka naik 5,8 poin menjadi 4.518,98.

Kondisi pasar yang cepat pulih tersebut menunjukkan kepercayaan investor masih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia. Pelakup asardan pebisnis tetap percaya diri dengan situasi ekonomi meskipun keamanan dinilai kurang kondusif. Koreksi IHSG yangterjadikemarin, tidakberlangsung lama karenakuatnya fundamental perekonomiannasional.

Meskipundemikian, pemerintahjugaperlumeningkatkansistemkeamanan di dalamnegeriuntukmenjagakepercayaan investor. Investor akan terus menuntut komitmen pemerintah untuk memberikan fasilitas kemudahan bagi investor sehingga tidak mudah terpengaruhi susoal keamanan.

Serangan terorisme harus dilawan dengan aktivitas yang berjalan seperti biasa, karena kepanikan masyarakata dalah yang di harapkano leh teroris. Selainitu, semua pihak harus menghindari polemik mengenai hal tersebut. Jika semakin banyak yang berspekulasi maka aka nmembuat situasi semakin kusut. Permasalahan terorisme ini  dapatkita percayakan kepada pihak berwenang seperti Polisi maupun BIN.

Rega Feriansyah
Pengamat Ekonomi Pertahanan