Jumat, 22 September 2017

Bukan Kolonialisme Jawa, Lawan Kita Adalah Kolonialisme Jiwa


Penulis : Abuzar Samad *

Jika ada orang merasakan bahwa saat ini terjadi kolonialisme Jawa atas masyarakat luar Jawa, adalah salah satu pandangan subjektif yang mempunyai alasan pembenar. Orang tersebut bisa saja beralasan di Indonesia sampai saat ini belum ada satupun presiden (yang benar-benar memimpin) secara sah dan legitimate) yang berasal dari luar Jawa atau bukan orang Jawa. Jika pernah ada Habibie dari Sulawesi, itupun melanjutkan kekuasaan dalam masa transisi kekuasan yang genting, karena sesuatu hal yang sifatnya insidentil.

Kekuasaan orang Jawa dalam implementasinya yang direfleksikan oleh Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan saat ini Joko Widodo, telah melakukan ekspansi besar-besaran ke luar Pulau Jawa untuk menyebar secara massif orang-orang Jawa ke seluruh penjuru pulau dalam gugusan Nusantara. Dalam praktek kekuasaan pemerintahannya juga, hampir dalam beberapa dekade pemerintahan, semua petinggi militer didominasi oleh orang Jawa, sampai ke Kapolda dan Danrem di seluruh Indonesia didominasi oleh orang Jawa, walaupun ia memimpin di suatu wilayah bukan didominasi orang Jawa.

Bagi orang Melayu khususnya, dan suku lainnya di luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua umumnya, keadaan ini menjadi isu politik yang sangat jitu dan ampuh untuk dijadikan argumentasi bahwa telah terjadi ekspansi kekuasaan (imperialisme) Jawa terhadap luar Jawa. Jika fakta ini yang mau dijadikan ukuran, maka argumentasi ini tak terbantahkan !

Jawa juga dipersepsikan sebagai masyarakat urban yang telah mengirim transmigran dalam jumlah besar ke luar pulaunya, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya (Papua). Kenyataan ini merupakan fakta yang telah terjadi dan dialami oleh generasi Indonesia setelah atau pasca kemerdekaan 1945.Walau fakta lain, bahwa kepindahan orang Jawa sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum kemerdekaan, namun tidak dalam jumlah besar. Orang -orang yang berpindah sebelum kemerdekaan atau sebelum kebijakan pemerintah Soeharto melakukan transmigrasi, merupakan orang-orang yang mempunyai misi lebih murni dalam hidupnya, dan atau lebih karena dorongan murni untuk merubah nasib sebagai manusia normal, dan dominan mereka mempersiapkan diri secara lahir bathin untuk hidup di tanah baru . Di tanah Malaya (Malaysia) bahkan orang Jawa telah dahulu menginjakkan kakinya sebelum kemerdekaan Malaysia, sebelum Soekarno berteriak ganyang Malaysia, hingga tercatat menjadi bagian penting pergerakan bangsa Melayu Malaysia dalam perjuangan bangsa baik pra maupun pasca kemerdekaan.

Kebijakan pemerintah Indonesia melakukan trasnmigrasi orang-orang Jawa ke luar Jawa di Indonesia, pada masyarakat luar Jawa menimbulkan pro dan kontra. Sebagian menerima dengan alasan dapat berperan sebagai katalisator pembangunan, dan untuk memberdayakan orang-orang yang sudah tak mempunyai lahan lagi untuk diolah, agar dapat melanjutkan kehidupannya dengan lebih layak dan manusiawi, serta dapat meningkatkan kualitas hidupnya di daerah baru.

Karena alasan kemanusian lah maka kedatangan orang-orang Jawa dapat diterima di seantoro pulau di Indonesia. Lalu apakah sekedar itu alasannya, bukan ! alasan lain dan sangat kuat ialah karena rakyat tempatan atau penduduk asli yang mendiami atau sebagai pemegang kekuasan secara adat wilayah lokasi transmigran, juga tidak mempunyai kekuatan untuk menolak, karena kekuasan pemerintahan yang dipegang oleh orang Jawa ( baca : rezim Soeharto) masih kuat pada masa itu, yang kebijakannya sangat sulit untuk dilawan.

Tentu sebagaimana ajaran agama yang haq, kedatangan orang Jawa ke luar Jawa harus membawa dampak positif baik bagi dirinya maupun lingkungan barunya, sebagai rakyat ia harus membaur dengan masyarakat sekitar, jika sebagai tentara ia tidak semena-mena dan berbuat zalim, dan sebagai hakim atau bendahara ia haruslah bersikap adil dan benar.

Orang Melayu tentu tidak senang melihat oknum tentara atau polisi yang sewenang wenang, yang tidak bermoral, hingga menjadi oknum pembeking tempat-tempat maksiat seperti perjudian serta prostitusi, ataupun seorang bendahara serta hakim yang sombong serta menumpuk kekayaannya dengan cara menerima suap, korupsi dan cara-cara curang lainnya.

Orang Jawa juga tidak ingin kehadiran orang-orang luar Jawa baik sebagai dosen, pengusaha, pedagang maupun hakim hakim di Jawa bersikap sombong, individualis dan berbuat tidak adil dalam amanah jabatannya. Tentu orang Jawa yang beradab dan jujur sangat tidak suka itu. Begitupun sebaliknya bagi orang orang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua yang berharap jika ada seorang pimpinan lembaga yang ditugaskan memimpin di daerah mereka, haruslah berbuat adil bagi masyarakat, benar dalam sikapnya dan memberikan contoh yang baik dalam masyarakat. Dia mestilah berbaur dengan masyarakat, menghargai masyarakat dan tata krama luhur mereka, serta adil dan benar dalam ucapan dan perbuatannya. Itulah sebenarnya cita-cita luhur dan cita-cita mulia kita semua sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Juga seperti sikap pribumi yang membenci pedagang-pedagang keturunan Cina atau Tionghoa, itu bukanlah sikap yang benar. Bukanlah ajaran Islam membenci seseorang karena keturunannya, asal-usulnya. Bukanlah karena ia keturunan Tionghoa yang menjadi alasan pribumi membenci pedagang pedagang itu, tapi siapapun pedagang yang berdagang dengan licik, dengan cara curang dan menipu harus dibenci. Mereka harus dilawan dan diluruskan. Tak kira Tionghoa atau pribumi, Cina, Bugis, Minang, Jawa atau Melayu. Yang haq harus ditegakkan.

Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap hijrahnya seseorang atau kaum ke suatu tempat atau wilayah baru dengan maksud baik, demi mengubah keadaan hidupnya? Islam sudah jelas merupakan agama yang Rahmatan lil Alamin. Maknanya nilai-nilai Islam yang menjadi rahmat bagi sekalian alam sangat manusiawi memperlakukan manusia. Islam bukan karangan manusia, tapi karangan si Pemilik Alam, Ia yang mempunyai dan menguasai langit dan bumi, dan Dia juga penguasa diantara keduanya.

Dalam prakteknya pada zaman Nabi Muhammad rasulullah SAW telah berhasil dengan baik mempersaudarakan kaum muhajirin (pendatang) dari Kota Mekah dengan penduduk asli Kota Madinah (kaum anshar ). Keberhasilan mempersatukan kaum muhajirin dan anshar dilakukan rasullulah berkat rahmat dan ridho Allah SWT, serta mulianya sikap dan perbuatan beliau. Hingga Madinah mencapai masa kejayaan dalam pemerintahannya. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat (49) Al-Hujurât ayat 10, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara. Konsekwensi dari persaudaraan itu, maka Islam mewajibkan kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam al-haq.

Hukum Allah selain diperintahkan di dalam Alqur'an juga tercitrakan melalui perkataan dan sikap perbuatan Rasulullah nabi Muhammad SAW. Di dalam Alqur'an Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah penguasa seluruh alam. Semua makhluk tunduk di hadapanNya. Hukum tertinggi adalah hukumnya, keadilan adalah milikNya, dan hanya kepadaNya lah kita sebagai hamba hendaknya meminta dan memohon pertolongan, serta kepadanNya lah kita berhukum. Alqur'an surat Al Maidah ayat 48 menjelaskan tentang kebenaran yang harus menjadi rujukan yaitu Alquran.

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS Al-Maidah ayat 48)

Dalam kristen juga Allah telah menurunkan firmanNya sebelum kedatangan Islam yang sempurna, yaitu hukum Allah yang diringkaskan dalam kasih. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah yang terutama dan yang pertama. Dan yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua inilah tergantung seluruh Taurat dan kitab para nabi?. (Injil Matius 22:37-40).

Apakah makna yang penulis ingin sampaikan ialah bahwa sebenarnya bagi orang-orang luar Jawa maupun orang Jawa sendiri yang merasa diperlakukan tidak adil oleh saudaranya (terjadi pada masa kerajaan dahulu, dimana ada perbudakan, terjadi pembedaan kasta, ada darah biru, keturunan ningrat dan rakyat jelata), bukanlah kolonialisme Jawa yang menjadi lawan kita, yang menjadi lawan kita sesungguhnya adalah penjajahan atau kolonialisme jiwa. Jiwa-jiwa yang serakah, jiwa-jiwa yang haus kekuasaan atau imperialis itulah yang menjadi musuh kita, jiwa seperti itu ada pada semua bangsa, ia terletak di dalam dada manusia. Ia ada pada orang Jawa, pada orang Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan lain sebagainya.

Jiwa kolonialis itu ada pada manusia yang terlahir di Arab, ada pada manusia yang hidup di Amerika, Cina, Jepang, Jerman, Eropa dan lainnya. Ia bersemayam di dalam dada manusia. Seseorang yang rakus akan harta dunia, memburunya dengan berbagai macam cara, dengan menghalalkan segala macam cara tanpa memperdulikan manusia lainnya, tanpa memikirkan keselamatan orang lain, demi kesenangan, demi kepuasan hawa nafsunya sendiri, itulah lawan kita. Itulah orang yang harus kita sadarkan, kita luruskan hingga ia akan tahu tujuan hidupnya di dunia dan akan kemana ia akhirnya.

Jika manusia seperti itu tidak mau diluruskan itulah manusia yang yang harus diperangi, yang menjadi lawan kita. Itulah manusia yang telah menjelma sebagai syetan yang nyata.

Jika seorang manusia ingkar dari perintah Allah yang telah dibisikkan ke dalam hatinya (hati nurani), maka kekejaman manusia telah dinyatakan di dalam Alqur'an lebih kejam dari semua makhluk di atas bumi ini. Orang yang ingkar dengan perintah Allah akan sanggup membunuh dengan keji tanpa hak, sanggup melakukan mutilasi, memperkosa, menipu, bahkan mencelakai orang dengan cara yang keji dan licik. Maka jika ia tidak bertobat dengan sebenar-benarnya taubat, orang seperti itu akan merasakan dahsyatnya siksaan api neraka.

Maka tugas dan perjuangan kita sebagai hamba Allah adalah melawan kolonialisme jiwa kita masing-masing, dalam momentum Ramadhan inilah kita bisa mengambil iktibar, dengan jiwa semakin bersih dan tenang, kita berusaha dan berjuang memelihara diri, memelihara lisan dan badan kita, untuk mencapai derajat taqwa, dan menjadi orang-orang yang ridha, orang yang menjaga keselamatan manusia lainnya, yang peduli pada kesusahan orang-orang terdekatnya seperti ibu-bapaknya, saudaranya, sahabatnya, dan semua makhluk Allah yang ada di muka bumi ini selamat dengan kehadirannya, bukan hancur atau kacau karena kehadirannya.

Manusia yang berjuang untuk ikut peduli dan merasa ikut bertangungjawab atas kebaikan orang lain, itulah jihad manusia yang paripurna. Karena Allah telah mengatakan bahwa sesungguhnya manusia terbaik adalah orang-orang yang berguna bagi banyak manusia lainnya. Subhanallah wallahuakbar.


* Penulis merupakan Advokat