Sabtu, 22 September 2018

Miang Ahok di Pilgubri

Kontestasi pemilihan Gubernur Riau 2018 memasuki tahap akhir. Meski belum keluar pengumuman resmi penyelenggara pemilu, publik sudah di hipnotis dengan hasil simsalabim abrakadabra hitung cepat lembaga survei.

Tidak ada yang mengejutkan hasil Pilgubri di hari pemungutan. Pasalnya, sepekan yang lalu, lembaga survei PolMark sudah merilis kemenangan Syamsuar-Edi Natar. Hasil lembaga survei Eep ini seperti teriakan Archilles memanggil Hector di luar benteng pertahanan kerajaan Troy. Menciutkan nyali se isi penghuni istana.

Keterpilihan seseorang dalam politik kata Dr Haryatmoko dalam teorinya, disebabkan karena kapital ekonomi, kapital sosial, kapital budaya dan kapital simbolis. Dan jika melihat empat paslon yang ada, semuanya memiliki nilai plus di salahsatu kapital yang ada.

Ke empat paslon secara prestasi maupun sumpah serapah masyarakat juga beda tipis. Mesin partai? nyaris tidak efektif. Ini bisa dilihat dari partai-partai besar pemenang Pileg Riau 2014 lalu, bahkan sudah berkoalisi, tapi untuk mencapai dua digit pun jagoannya keteteran.

Lalu faktor rasional apa bagi mayoritas masyarakat Riau menjatuhkan pilihan amanah kepemimpinan pada Ongah Syamsuar?. Ahok efek. Kasus penistaan agama, dan partai pendukungnya di Pilkada Jakarta tahun lalu.

Lah apa hubungannya? terlalu mendramatisasi. Tapi bolehlah kita analisa icak-icak, walaupun tidak ada satupun paslon di Pilgubri secara penuh tidak didukung partai pendukung Ahok di Pilkada DKI. Namun hitung-hitungan kuantitas dan kualitas jelas tampak.

Masyarakat Riau terlalu religius tuk melupakan penistaan itu. Sebab agama bagi masyarakat Riau tidak hanya di anut tapi di peluk. Dendam tidak, tapi mengingat iya. Luka yang berbekas. Mungkin perlu musnah satu generasi. Atau mau lebih cepat, penguasa partai di tingkat nasional yang mengubah haluan politiknya di tahun depan.

Tapi jika tak nak, anyir kasus ahok akan berdampak luas bagi partai pendukungnya dulu di Pileg dan Pilkada di Riau selanjutnya. Tragis dan miris. Ini hanya analisa icak-icak, tapi boleh kita buktikan dalam waktu dekat pada pemilihan anggota legislatif di Bumi Lancang Kuning tahun 2019 mendatang...

Oleh : Alwira Fanzary
Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau