Abdul Gaffar; Firdaus, Punya Pengalaman, Tidak Tinggi Hati dan Mau Bergaul

TOPRIAU,PEKANBARU - Sebagai calon Gubernur Dr.Firdaus,MT dinilai mempunyai banyak dimensi keunggulan yang tidak dimiliki oleh calon lainnya. Firdaus berasal dari kalangan masyarakat biasa dan berasal dari orang susah.

 

Bahkan ia mempunyai pengalaman dalam melaksanakan tugas pemerintahan, selalu bergaul dengan banyak kalangan dan tidak pernah tinggi hati.

 

Hal tersebut  disampaikan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) H.Abdul Gafar Usman, menjadi satu keunggulan yang menurutnya bisa membawa Firdaus lebih mudah dalam memimpin Riau ke depan.

 

Wakil rakyat yang juga pernah menjadi Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau ini mengungkapkan, ia termasuk salah seorang yang banyak tahu tentang rekam jejak kehidupan Firdaus.

 

''Beliau itu dulunya orang susah. Saya masih ingat, sewaktu sekolah, dia berjalan kaki di sepanjang jalan Teratai Pekanbaru. Dia tahu betul bagaimana kehidupan orang susah dan dia akan dengan cepat meresponi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lapisan bawah, khususnya pedesaan, karena dia juga pemimpin lahir dari sebuah desa,'' kata Gaffar.

 

Disamping itu, Firdaus juga tidak memerlukan banyak penyesuaian dalam melaksanakan tugas pemerintahan di tingkat provinsi. Karena dia sudah memiliki pengalaman yang cukup, mulai dari sebagai honorer, hingga menjadi kepala dinas lantas dipercaya menjadi Wali Kota Pekanbaru, bahkan ketika seorang pemimpin tidak memahami apa yang akan di laksanakan, dia membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa segera memenuhi apa yang menjadi tugasnya.

 

''Ya, bahasanya, kalau seorang pemimpin biasa memegang SIM C, lantas disuruh membawa dump truk tentu akan sulit dan butuh waktu panjang untuk mempelajari tugas yang harus dilaksanakan. Sementara masyarakat membutuhkan solusi cepat,'' ungkapnya.

 

Selain itu, Gaffar menyampaikan bahwa Firdaus termasuk pemimpin yang mudah bergaul dan tidak terbatas wilayah. Pergaulan itu akan banyak membantu tugasnya, khususnya ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan dan tugas-tugas besar yang kadang tidak bisa dipecahkan sendiri.

 

Hal tersebut berjalan seiring dengan sifatnya yang selalu rendah hati dan mau berkomunikasi. Gaffar mencontohkan, Pekanbaru adalah satu-satunya wilayah di Riau yang berhasil keluar dari persoalan pembatasan perizinan yang disebabkan belum tuntasnya pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau.

 

Hal tersebut dikarenakan Firdaus mau memanfaatkan pergaulannya untuk memudahkan tugas-tugas atau kendala dalam menjalankan tugas pemerintahan. Dalam menjalankan tugas pemerintahan, seorang pemimpin harus bisa berbuat sesuai dengan kebijakan dan mampu pula mempertimbangkan penerapan sebuah kebijaksanaan.

 

 

Banyak pemimpin tidak mampu membangun kreasi dalam menjalankan tugasnya karena terikat pada sebuah kebijakan. Dengan banyak berkomunikasi, bertanya akhirnya Pemko Pekanbaru  mencari solusi terhadap permasalahan perizinan sebelum terbitnya RTRW.

 

"Dia berkoordinasi dengan kementerian Pekerjaan Umum, Menteri Lingkungan Hidup sehingga RTRW yang belum tuntas pembahasannya tidak sampai menghambat apalagi menghentikan aktivitas perizinan yang bisa dikeluarkan Pemko Pekanbaru,'' ujar Gaffar.

 

Gaffar juga mengingatkan bahwa, visi Riau bukanlah berhadapan dengan kemajuan provinsi tetangga. Tapi dengan negara-negara tetangga, hal ini dikarenakan, seorang pemimpin yang hadir harusnya bukan pemimpin yang hanya sekadar bisa, tapi harus mampu menjadikan Riau sebagai provinsi yang bisa bersaing dengan negara-negara tetangga.

 

''Konon lagi visi Riau 2020 itu tinggal beberapa tahun lagi. Pemimpin Riau ke depan harusnya mengerti dan tahu bagaimana mencapai visi tersebut. Sosok berpengalaman, tidak tinggi hati dan mau bergaul dan berkomunikasi dengan banyak golongan itu menjadi penting,'' tutup Gaffar. (TR/Rls)