Rabu, 20 September 2017

Datuk Mangku Sang Pejuang Tanpa Pamrih

Pekanbaru, TOP Riau- Menyonsong Hari Bela Negara tanggal 19 Desember 2015, Top Riau menampilkan profil pejuang Riau yang ikut berjuang di zaman penjajahan, membela kemerdekaan RI. Adalah Datuk Mangku, seorang pemuda yang waktu itu terkenal sebagai lelaki yang garang dan tak kenal kompromi untuk menegakkan harkat dan martabat kaummnya bangsa pribumi Riau, dari tangan penjajahan Belanda dan Jepang, yang telah menduduki Indonesia dan masih ingin bercokol kembali ketika Proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Dalam peristiwa genting itu, yang diceritakan Wan Galib dalam buku memoarnya yang ditulis Abel Tasman, bahwa pemuda Datuk Mangku termasuk anggota KNI yang mengawal peralihan kekuasan dari Jepang ke RI di Riau. Pun setelah itu, pada agresi tahun 1949 Datuk Mangku juga terlibat aktif mempertahan kedaulatan RI dari rongrongan Belanda, melalui dukungan sekutunya Inggris dan tentara Eropa lainnya.

Negara manapun menyadari bahwa sejarah penting baik untuk diingat dan dihargai, walaupun pelaku sejarah tidak akan dapat menikmati penghargaan yang akan dan sudah diberikan. Besar maupun kecil perjuangan dan pengorbanan yang diberikan juga tidak mengharapkan imbalan atau pamrih. Karena para pejuang melakukan perlawanan dengan sadar dan ikhlas guna bangsa ini, agar terlepas dari belenggu penjajah kolonial bangsa asing.

Maka anak bangsa wajib mengetahui dan mempelajari sejarah yang benar dan bukan sejarah rekayasa.

Pada pencerahan ini menampilkan sosok pemuda dari Kampar yang bernama Zainal Arifin Pimpinan Perlawanan Rakyat pada Agresi ke II (19 Desember - 13 Juli 1949) dan mendapat surat penghargaan dari Wakil Gubernur Milter Sumatera Tenggah Mr. M.Nasroen selaku Pasukan Teras Mobil pada Juli 1949.
Namun menurut rekan-rekan seperjuangannya di Pekanbaru, ibu Rajiah Rahim (pemilik Apotik Kardina) dalam perjuangan sebagai Kepala Dapur Umum, "beliau (Zainal Arifin komandan kami) diantaranya anggotanya bu Bur, M. Noer dan Ibrahim Arsyad (mantan Wali Kota Pekanbaru) sebagai Lasykar Kesehatan.

Ada lagi kepala polisi yaitu Mayor Jasman bekas KNIL mantan Ketua LVRI Riau, Hasan Singgo, Hasan Basri dan Major Lilik, Zainullah Dt Simarajo mantan DPRD Kab. Kampar, Dun Usul H. Moh Amin (bpk Ir. Yusman mantan Sekda Pekanbaru) dan Yahya.

Pada waktu awal kemerdekaan, Zainal Arifin gelar Datuk Mangku, turut berjuang pada agresi pertama, dan pernah kontak senjata dengan Belanda di Rantau Berangin dengan rekan seperjuangan Letnan DI Panjaitan dan M. Silalahi. Dan dalam mendapatkan senjata, mereka membawa candu melalui Sungai Rokan dengan resiko dikejar oleh Belanda.

Diceritakan oleh anak keduanya Ir Syarifudin, dari penuturan Zainal Arifin Datuk Mangku, pada daerah Batu Langkah Kabupaten Kampar, mobil yang dipacu Datuk Mangku pernah melompati sungai lantaran dikejar Belanda yang jembatannya telah dirusak oleh lasykar rakyat . Sesampai Di Ujung Batu disambut oleh Camat militer Tengku St. Pangeran (Bpk Tengku Arfini) dan Wali Porang Hasan Basri, bertempat pada sebuah pondok dibawah batang Beringin pinggir Sungai Rokan.
Dengan rakit Zainal Ariifin berikut rombongan terus menuju Bagan, dan disana telah menunggu Camat Pak Rab juga Camat Militer (bpk dr. Tabrani Rab. ). Dan terus berlayar dengan tongkang Ikan ke Singapura dimana candu ditukar dengan senjata dan amunisi serta pakaian.

Pada agresi pertama, Zainal pernah kontak senjata dengan Belanda di Jembatan Rantau Berangin dan banyak tentara Belanda yang mati (tentara KNIL). Pada agresi kedua, kontak senjata di Batu Bolah Air Tiris dimana saat itu pasukan yang dipimpinnya terpecah jadi dua, sebagian sudah lelah dan tidak mau lagi turut berjuang dan Zainal Arifin (Datuk Mangku) dengan tegas mengatakan, bagi yang tidak mau lagi silahkan pergi dan senjata tinggalkan. Begitulah ketegasan sang pejuang tanpa pamrih ini.
Tidak berapa lama pasukan Zainal bergerak muncul, datang pesawat Mustang Belanda melakukan patroli diatas Kota Bangkinang, dan sekonyong saat pasukan Zainal mau menyeberangi jalan Nagari Batu Bolah, tentara Belanda lansung memuntahkan peluru senapan mesin dari pesawat, dan pasukan Zainal lari kocar kacir. Pada peristiwa ini banyak lasykar yang mati, namun Zainal Arifin Datuk Mangku selamat dan terus bergerak ke Rantau Berangin. Diantara rekannya Yahya dan H. Moh Amin. 
Selesai Agresi kedua, Zainal Arifin (Datuk Mangku) meninggalkan pasukan dan beralih menjadi Palang Merah Indonesia yaitu tahun 1950. Saat bertugas di Rumah Sakit Umum Pekanbaru pernah mengantarkan keluarga TNI ke Bagan, diantaranya keluarga Kapten Dr's. Abd Ganie Bakri Atjeh, Peltu Djamaloes dan keluarga Serka Hasan Singgo .
Zainal Arifin Datuk Mangku dalam bertugas di Rumah Sakit Umum pernah merawat seorang pasien bernama Buyung Mohammad Syarif, bekas Gun Choo (wedana) tahun 1942 di Pasir Pengaraian yang merupakan bapak angkat Tengku Dahlan (bpk.Tesy D Dahlan) mantan Kanwil Hub Propinsi RIAU) dan pada zaman Belanda pernah menjadi Mantari Candu Garam di Bagan Siapi api, di Sibolga dan Pekanbaru.

Pada tahun 1950 para pemuda mendaulatnya untuk jadi Residen dan beliau menolak, dengan alasan kesehatan beliau, karena pemuda akan mengibarkan bendera merah putih dihalaman rumah beliau, sekarang di Jalan Gatot Subroto (rumah Toriang Harahap bpk ibu Nurmalia Harahap, guru SMA 1 Pekanbaru).
Akhirnya Buyung Moh. Syarif (abang dari Ustadz besar Kota Medan H. Mohd Kotbah bapak Baharuddin Lubis (mantan Sekda Kota Medan tahun 1965 ) meninggal di Simalanggang, Payakumbuh dengan mewarisi nama kepada seorang Syarifuddin, kepada salah seorang cucunya anak dari Rosnidar Purna Bhakti Kejaksaan Negeri Pekanbaru umur 84 tahun yang merupakan teman dari Ismail Suko (alm).

Demikianlah sekelumit kisah pemuda pejuang kemerdekaan Riau yang dapat dirangkum. Semoga kita dapat mengingat dan menghargai jasa para pahlawan dengan meneladani sikap ksatrianya, dan tidak semata-mata mengejar jabatan dan penghargaan yang semu belaka, tanpa ada keikhlasan dalam perjuangan dan pengabdian bagi bangsa dan sesama.

Sekelumit biodata H. Zainal Arifin gelar Dt. Mangku, ia dillahirkan di Danau Bingkuang pada tahun 1923. Ayahnya berasal dari daerah Talu Pasaman Barat. (dikenal dengan Harimau Tonga rao rao). Dari garis perempauan, ibu dari Datuk Mangku merupakan keturunan Simpul asal MuaraTakus (keturunan raja Muara Takus.
Semoga bermanfaat hendaknya.