Jumat, 15 Desember 2017

Usaha Salak yang Digelutinya, Petani Ini Sanggup Sekolahkan Anaknya Hingga S2

TOPRIAU, PASIRPENGARAIAN - Musiran awalnya tak menyangka bisa seberhasil ini dapat menyekolahkan anaknya dibangku kuliah hingga S2. †Dengan memulai usaha mengelola kebunnya, Musiran mengaku awalnya hanya iseng saja.

Yakni dengan mengawinkan salak Padang Sidempuan dengan bibit salak gading Bojonegoro. Waktu itu, menurutnya, lahan yang dimilikinya sebagai seorang tranmigrasi dari tanah Jawa masih berupa perkebunan jenis lainnya.

Namun karena dianggap berhasil, hasil perkawinan antara tanaman salak Padang Sidempuan dan bibit salak gading Bojonegoro ini menghasilkan bibit salak manis dianggap sebagai harapan baru. Karena selain bisa diterima lidah, isi buah salak yang dihasilkan dari perkawinan silang ini pun lebih tebal.

Musiran mengaku sudah 22 tahun berkebun sambil terus mengembangkan bibit salak yang disebutnya sebagai belasteran tersebut. Sementara kebun salaknya †berjejer tanaman salak yang sudah siap dipanen.

"Alhamdulillah anak saya ada lima. Diantaranya ada S1 ada juga S2," kata Musiran, Selasa (21/11/17).

Musiran mengaku semakin bersemangat karena salak belasterannya rupanya juga disambut baik oleh warga sekitar. Sehingga, jadilah perkebunan salak di atas 2,3 hektar miliknya tersebut.

Musiran mengaku berkat keberhasillannya mengembangkan bibit salak yang manis tersebut, dia dapat menyekolahkan dua diantara lima anaknya dijenjang S1 dan S2. Sementara yang paling bontot, masih duduk dibangku SMA.

"Syukurlah, memang ekonomi baik karena kebin salak ini, dua anak saya bisa kuliah hingga S1 dan S2," ujar Musiran lagi.

Namun berbeda dengan dua anak pertamanya, ketika dirinya masih merintis usaha kebun ini, dia hanya bisa menyekolahkan anaknya dijejang SMA saja. Itu pun karena kesabaran dan semengat anaknya yang memang ingin belajar dibangku sekolah.

"Waktu anak pertama, kedua cuma SMA. Waktu itu, ekonomi masih biasa. Sekarang alhamdulillah," ungkap Musiran.

Karena keberhasilannya mencangkokan dua bibit sawit tersebut, juga 'tercium' juga oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. Apalagi tanaman buah salaknya banyak juga dijual dipasaran, melalui tengkulak yang datang mengambil di kebunnya setiap masa panen.

"Biasa tengkulak yang datang mengambil," ungkap Musiran.

Belakangan, Pemkab Rohul pun menamai salak belasteran Musiran dengan nama salak Pusaka. Disebut nama Pusaka, diambil dari slogan Rohul, yakni Negeri Suluk Berpusaka Nan Hijau.

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman bahkan ikut memanen buah salak milik Musiran di desa Rambah Muda Kecamatan Rambah Hilir tersebut.

Dengan penuh antusias, orang nomor satu di Riau ini juga memberikan semangat kepada Musiran. Terlebih ketika, buah salak Pusaka dicoba Gubernur Riau sambil tersenyum, yang berarti rasanya enak.

"Buah salaknya enak pak," ujar Andi yang biasa disapa Andi Rachman.(TR/MCR)